63E9B05FCC0B-4

63E9B05FCC0B-4Workshop Laboratorium Sosial (Labsos) IPSK-LIPI: Penerapan Ilmu Sosial Kemanusiaan untuk Pemberdayaan Desa, diselenggarakan oleh Kedeputian Bidang IPSK-LIPI pada tanggal 16 Mei 2013. Penyelenggaraan workshop kali pertama diikuti oleh berbagai stakeholder, baik peneliti di Kedeputian Bidang IPSK, Kedeputian lain dibawah naungan LIPI, masyarakat dan peserta lainnya. Workshop bertempat di ruang seminar besar Widya Graha LIPI lantai 1.

Sebelum sesi pertama, diawali oleh kata sambutan Prof. Dr. Aswatini, MA, Deputi Bidang IPSK dan dilanjutkan pembukaan oleh Prof. Dr. Lukman Hakim, Kepala LIPI. Selanjutnyapemaparan makalah, presentasi diawali oleh Agus Eko Nugroho S.E. M.Econ, dari Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) dengan tema “Konsep Pengembangan Laboratorium Sosial IPSK-LIPI: Penguatan Peran Ilmu Sosial dan Kemanusiaan untuk Program Pemberdayaan Masyarakat. Konsep Pengembangan Laboratorium Sosial IPSK-LIPI adalah memperkuat peran IPSK melalui pengembangan Laboratorium Sosial.

 

 Workshop Laboratorium Sosial (Labsos) IPSK-LIPI: Penerapan Ilmu Sosial Kemanusiaan untuk Pemberdayaan Desa (SESI 1)

63E9B05FCC0B-4Workshop Laboratorium Sosial (Labsos) IPSK-LIPI: Penerapan Ilmu Sosial Kemanusiaan untuk Pemberdayaan Desa, diselenggarakan oleh Kedeputian Bidang IPSK-LIPI pada tanggal 16 Mei 2013. Penyelenggaraan workshop kali pertama diikuti oleh berbagai stakeholder, baik peneliti di Kedeputian Bidang IPSK, Kedeputian lain dibawah naungan LIPI, masyarakat dan peserta lainnya. Workshop bertempat di ruang seminar besar Widya Graha LIPI lantai 1.

Sebelum sesi pertama, diawali oleh kata sambutan Prof. Dr. Aswatini, MA, Deputi Bidang IPSK dan dilanjutkan pembukaan oleh Prof. Dr. Lukman Hakim, Kepala LIPI. Selanjutnyapemaparan makalah, presentasi diawali oleh Agus Eko Nugroho S.E. M.Econ, dari Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) dengan tema “Konsep Pengembangan Laboratorium Sosial IPSK-LIPI: Penguatan Peran Ilmu Sosial dan Kemanusiaan untuk Program Pemberdayaan Masyarakat. Konsep Pengembangan Laboratorium Sosial IPSK-LIPI adalah memperkuat peran IPSK melalui pengembangan Laboratorium Sosial.

Agus Eko Nugroho mengemukakan konsep Labsos IPSK adalah sebagai berikut : “Suatu kesatuan wilayah yang merupakan tempat implementasi temuan-temuan penelitian (model/konsep/teknologi) dan percontoham proses pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat yang terintegrasi (pusat pembelajaran dan informasi) berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)”. Lebih lanjut beliau mengemukakan pada tahun 2013 Labsos IPSK memiliki 3 tujuan. Tujuan pertama adalah untuk mengkaji kondisi terkini sosial, ekonomi, budaya, lingkungan hidup yang ada di Desa Ligarmukti. Kedua, memformulasikan pengembangan kelembagaan ekonomi, sosial dan budaya yang mampu mendorong pengembangan pertanian terpadu berbasis ramah lingkungan dan berkelanjutan. Ketiga, memformulasikan model pemberdayaan yang mampu memperkuat keterlibatan masyarakat lokal dan keempat memformulasikan model pemberdayaan yang mampu mendorong keterlibatan stakeholder lain (LSM, dunia usaha, universitas, Pemda) dalam mendukung pengembangan Labsos LIPI. Agus Eko Nugroho juga mengharapkan bahwa hasil dari penelitian ini antara lain, model pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat berbasis partisipasi, laporan Kegiatan dan policy paper/modul.

Selanjutnya, presentasi disampaikan oleh Drs. Bayu Setiawan, MA (Tim Labsos IPSK) bertema Pengembangan Baseline Data Laboratorium Sosial Desa Ligarmukti 2013. Latar belakang dari pengembangan baseline data antara lain diperlukan gambaran yang menyeluruh mengenai kondisi masyarakat, khususnya kondisi kependudukan/demografi, sosial, ekonomi, budaya dan politik. Data tersebut dapat berlanjut dan berkesinambungan karena data ini sangat penting, sehingga data yang ada selalu terbarukan. Tujuan dari pengembangan baseline data adalah pembangunan pangkalan data dan informasi untuk membantu pengembangan pengelolaan data dan informasi tentang kondisi dan kehidupan masyarakat Desa Ligarmukti secara menyeluruh. Disamping itu, membantu pemberian layanan akses data dan informasi kegiatan labsos kepada para peneliti, pemerhati, publik/stakeholders lainnya secara cepat dan efisien.

Lebih lanjut Bayu Setiawan mengemukakan metodologi dari pengembangan baseline data adalah pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif, review literatur, survei/sensus rumah tangga dengan dilakukan pemilihan dan penyusunan variabel dan indikator untuk pengumpulan data sebagai bahan penyusunan instrumen penelitian/pengumpulan data berupa daftar pertanyaan, FGD dan Wawancara. Sensus rumah tangga mencakup data kependudukan (jumlah ART, jenis kelamin, umur, pendidikan, kegiatan utama, pekerjaan utama/tambahan, pendapatan, pengeluaran), kesejahteraan penduduk (kepemilikan, kondisi rumah, kesehatan), sosial-ekonomi (pekerjaan, pengangguran, kemiskinan, usaha produktif, potensi desa) dan sosial kemasyarakatan (kebiasaan, nilai-nilai, kelembagaan masyarakat, kepemimpinan).

Pembicara Bambang Wen beliau adalah ketua LPSPM (Lembaga Pengembangan Sumberdaya Alam dan Pemberdayaan Masyarakat) mempresentasikan makalah bertema “Manajemen Usaha Ternak SapiUntuk Mendukung Budidaya Tanaman PanganYang Berwawasan Lingkungan”. Pada paparan tersebut Bambang wen mengemukanan bahwa dengan dukungan organisasi & kelembagaan usaha yang tangguh adalah sebagai salah satu cara untuk mengindentifikasi potensi ekonomi berbasis pertanian guna mendukung terciptanya Desa Ligarmukti sebagai Desa Mandiri Ekonomi menuju Desa Sejahtera. Selain itu sebagai lokasi evaluasi aspek ekonomi dan sosial penerapan inovasi pertanian.

Makalah keempat disampaikan oleh Nawawi, SE, MA (Tim Labsos Pusat Penelitian Kependudukan) bertema “penyiapan dan pemberdayaan tenaga kerja melalui optimalisasi sumberdaya lokal dan berbasis kelompok”. Namawi mengemukan bahwa konsep yang saling terintegrasi dan berbasis kelompok, konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial, yakni bersifat People-Centered, Participatory, Empowering, dan Suitable, dapat menciptakan kemandirian kelompok-dimulai dengan menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan pengembangan potensi yang dimiliki setiap individu dan kelompok: Aku Tahu Apa yang Aku Mau dan Aku Mau Apa yang Aku Mampudan membutuhkan waktu panjang namun hasilnya akan lebih baik karena akan terjadi peningkatan kesadaran dan kontrol oleh seluruh anggota masyarakat (kelompok) yang terlibat. Dari pembelajaran pertama, seringkali proses penyiapan dan pemberdayaan yang dibangun selalu mengasumsikan bahwa masyarakat (warga miskin) membutuhkan modal. Konsep ini mengabaikan kendala sikap mental, kultur, dan kesiapan masyarakat dan berimplikasi terhadap rendahnya perubahan cara pandang, sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami permasahalan yang dihadapi. Kedua, proses yang dibangun tidak berjalan optimal karena kegiatan penyiapan dan pemberdayaan lebih bersifat dan berorientasi pada “belas kasihan” sehingga menimbulkan ketergantungan dan seringkali program yang diterima dianggap “bansos” dari pemerintah. Ketiga, proses yang dibangun dimaknai secara parsial atau intervensi pada satu aspek tertentu (misalnya ekonomi dan fisik)- proyek jangka pendek, belum pada social sustainability dan social economic empowerment.

Indikantor keberhasilan menurut Nawawi adalah terbangunnya jaringan kerjasama dengan stakeholders terkait hal ini merupakan pembelajaran dari dari Desa Menawan Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus- Jawa Tengah.

Pada sesi pertama diakhiri presentasi dari Inne Dwiastuti staf Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi dengan tema Program Pelatihan Kewirausahaan Bagi Kelompok Masyarakat Dan Pelaku Usaha Kecil (UMKM) di D Ligarmukti, Kabupaten Bogor. Program tersebut dilatarbelakangi penerapan konsep tingginya tingkat pengangguran (40 %), rendahnya tingkat pendidikan (1 SD, tidak ada SMP dan SMA), mayoritas penduduk buruh tani (80%), usaha warung (32%), tidak ada pasar tradisional dan pasar modern, belum ada koperasi dan jasa penggadaian dan program PNPM untuk perempuan sudah ada, namun penduduk terbiasa pinjam ke rentenir.

Inne mengemukkan bahwa tujuan dari pelatihan kewirausahaan adalah membangun jiwa kewirausahaan dan memperdalam teori-teori kewirausahaan, meningkatkan kemampuan manajemen khususnya  aspek pemasaran, aspek produksi, aspek sumber daya manusia dan dapat mengakses permodalan dan mengelola keuangan usaha. Teknis pelaksanaan Modul 1: Kewirausahaan, peserta dibekali tentang berbagai trik, cara, strategi membangun jiwa kewirausahaan, etika bisnis, dan seluk beluk wirausaha. Modul 2 :Manajemen, peserta diperkenalkan tentang manajemen usaha kecil. Modul ini antara lain menjelaskan tentang aspek pemasaran, aspek produksi, dan aspek sumberdaya manusia. Dan Modul 3 : Permodalan dan Keuangan, peserta diperkenalkan dasar-dasar keuangan seperti pembukuan sederhana usaha kecil dan bagaimana untuk mengakses permodalan. Sehingga diharapkan dalam pelatihan dihasilkannya kelompok masyarakat dan UMKM yang mampu berwirausaha mandiri sehingga dapat memperluas lapangan kerja dan peningkatankesejahteraan masyarakat. (Puji Hartana)