berita seminar cina
berita seminar cinaHubungan diplomatik antara Indonesia dan Tiongkok telah berusia 65 tahun pada 13 April 2015 lalu. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tri Nuke Pudjiastuti melihat hubungan kedua negara terus meningkat dari berbagai aspek, seperti politik, keamanan, ekonomi dan bidang lainnya.
 
“Hubungan Indonesia dan Tiongkok merupakan hubungan kemitraan strategis. Bahkan, kini kedua pihak juga terus mempererat dan memperkuat hubungannnya, baik kemitraan strategis maupun people to people,” jelasnya saat berbicara dalam Seminar Buku 65 Tahun Hubungan Diplomatik Republik Indonesia (RI) – Republik  Rakyat Tiongkok (RRT) di LIPI Jakarta, Senin  (18/4).
 
Menurutnya, kedua negara memiliki posisi dan peran strategis di kawasan masing-masing dan tentu hubungan ini harus mengedepankan prinsip-prinsip saling menghormati dan menguntungkan kedua belah pihak. “Indonesia merupakan negara besar di kawasan Asia Tenggara dan Tiongkok merupakan negara Besar di kawasan Asia Pasifik,” sambung Nuke, sapaan akrab Tri Nuke Pudjiastuti.
 
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia, Soegeng Rahardjo menuturkan, Presiden Joko Widodo dan Presiden Xi Jinping telah menggarisbawahi arti penting hubungan diplomatik yang telah berjalan lama tersebut. “Apalagi abad 21 ini disebut sebagai abad Asia,” imbuhnya.
 
Soegeng menyebut salah satu motor abad Asia adalah Tiongkok. Negeri itu diprediksi tumbuh sebagai kekuatan baru di kawasan Asia Pasifik menggantikan Amerika Serikat. “Inilah peluang yang harus dimanfaatkan Indonesia khususnya dalam mengembangkan hubungan bilateral,” sambungnya.
 
Apalagi saat ini Tiongkok menyimpan 30 persen cadangan devisa dunia dengan nilai USD 3,2 triliun dan juga merupakan negara terbesar kedua dunia dalam bidang ekonomi. Kemudian, Tiongkok merupakan investor terbesar ke-8 di Indonesia.
 
Sementara itu, peneliti senior National Institute of International Strategy (NIIS), Chinese Academy of Science (CASS), Xu Liping menambahkan, 65 tahun hubungan diplomatik kedua negara merupakan masa emas kerja sama. “Prospek kerjasama Indonesia dan Tiongkok semakin erat setelah prakarsa Tiongkok, One Belt and One Road dalam mengembangkan jalan sutera maritim abad ke 21,” katanya.
 
Menurutnya, hal ini sejalan dengan kebijakan Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia dan negara-negara di sekitarnya. Tidak hanya itu, kedua negara telah memiliki mekanisme untuk mendorong hubungan kebudayaan dan hubungan antar masyarakat, pungkasnya. (msa/ed: pwd)
 

Sumber : Biro Kerja sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat

Sivitas Terkait : Dr. Tri Nuke Pudjiastuti M.A.