gambar1

Tim DIPA 2015-2019 Peneliti Kluster Ekologi Manusia – Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Anggota : Dr. Herry Yogaswara, Andini Desita Ekaputri, M.SE, Dr. Deny Hidayati, Intan Adhi Perdana Putri, M.Si , Syarifah Aini Dalimunthe, M.Sc

Provinsi Jambi, dengan jumlah penduduk mencapai 3 juta jiwa, memiliki pengalaman bencana nasional yang regular. BNPB dan banyak referensi menginformasikan kejadian bencana yang paling sering terjadi di Provinsi Jambi adalah banjir dan tanah longsor. Selain itu, provinsi ini juga menjadi salah satu wilayah yang menjadi sumber titik api terbesar pada kejadian kebakaran  hutan dalam rentang dua dekade terakhir. Tekanan penduduk terhadap lahan menambah frekuensi bencana. Pada saat yang sama jumlah penduduk terpapar terus bertambah mencapai 500,000 jiwa akibat angka pertumbuhan penduduk yang tinggi; baik dari angka kelahiran maupun migrasi masuk dari wilayah sekitar. Selain itu, Jambi tidak dapat menghindar dari pengaruh globalisasi. Provinsi Jambi termasuk dalam kawasan Segi Tiga Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapore (IMS-GT). Jambi terletak di kawasan imbas segitiga pertumbuhan ekonomi yang meningkat akibat spillover effect dari tiga Sibajo dan kerja sama IMS –GT. Masuknya investor dari regional ASEAN dan konsekuensi lebih lanjut dari aktivitas MEA mendorong kegiatan ekonomi yang bersifat ekstraktif serta alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit dan karet dalam skala besar. Penelitian DIPA ini bertujuan untuk menganalisis ketahanan masyarakat terhadap bencana alam yang dipicu dan diperparah oleh perubahan lingkungan karena aktivitas manusia yang berdampak pada degradasi sumber daya alam/laut dan lingkungan dan keselamatan serta keberlanjutan livelihood penduduk di wilayah bencana, khususnya di Provinsi Jambi.

Tekanan penduduk terhadap lingkungan seperti perubahan penggunaan dan tutupan  lahan (land use – land cover change) terjadi karena didorong kebutuhan dasar manusia yang terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk. Namun demikian, aktivitas ini harus dibayar dengan harga yang mahal. Makin seringnya kejadian banjir, longsor dan kebakaran hutan adalah konsekuensi dari hilangnya ecosystem services. Pada situasi jangka panjang berimplikasi pada lambatnya program pembangunan ekonomi inklusif dan pengurangan angka kemiskinanan. Frekuensi kejadian bencana di Provinsi Jambi terus meningkat. Pada satu dekade terakhir (2010-2014) Provinsi Jambi mengalami bencana alam sebanyak 310 kejadian, sedangkan satu dekade sebelumnya jumlahnya hanya mencapai 35 kejadian. Artinya, kejadian bencana meningkat hampir delapan kali.  Jumlah penduduk terkena bencana menurut kabupaten/kota dalam periode 1990-2014 yang terbanyak adalah Kota Jambi, diikuti oleh Kabupaten Kerinci dan Tanjung Jabung Timur. 

gambar1

Gambar 1 Frekuensi Kejadian Bencana dan Jumbal Kelompok rentan di Provinsi Jambi dalam rentang waktu 2010-2014 (Sumber: Data DIBI 2015)

Lebih lanjut, kelompok masyarakat adat Jambi yang sebagian dikenal dengan ‘Orang Rimba’, merupakan komunitas yang mempunyai kerentanan dan risiko tinggi terhadap perubahan lingkungan yang berimplikasi pada bencana di provinsi ini. Dari hasil perhitungan data sekunder, jumlah kelompok rentan di Provinsi Jambi pada tahun 2000 dan 2010 dari keseluruhan total penduduk. Maraknya alih fungsi lahan di Povinsi Jambi diawali tahun 1988 dengan pemberian konsesi kayu , Hutan Produksi Terbatas (HPH) kepada PT Sarestra II. Kabupaten yang pertama kali menjadi lokasi adalah Kabupaten Merangin. Setelah PT Sarestra II, konsesi HPH diberikan kepada PT Nusalease Timber Corporation (NTC).

Membidik Isu Strategis

gambar2

Di antara perjalanan kegiatan tahun pertama, tim DIPA Jambi tanggap terhadap isu strategis yang menjadi prioritas nasional. Dua kali kegiatan panel of expert diadakan untuk mempertemukan stakeholder terkait dan pada saat yang sama mencari penyelesaian dari sudut pandang akademis. Panel of expert pertama terselenggara pada 26 Maret 2016. Tema besar yang menjadi garis diskusi adalah   MEMAHAMI ISU KETAHANAN PANGAN PADA MASYARAKAT ADAT ORANG RIMBA yang diihadiri oleh perwakilan dari KLHK, Kementrian Sosial, LSM, akademisi serta pewarta media. Konversi lahan menjadi perkebunan menjadi ancaman bagi ketahanan pangan. Penanggulangan kelaparan telah menjadi prioritas utama dalam upaya pengurangan kemiskinan. Namun, kelompok yang rentan terhadap kelaparan, seperti masyarakat yang bergantung pada alam, ternyata jauh dari perhatian. Ketergantungan orang rimba pada keanekaragaman hayati tanpa didampingi kesiapan menghadapi perubahan lingkungan membuat mereka menghadapi konsekuensi malnutrisi.

Ekstraksi sumber daya, seperti praktik penambangan emas tanpa izin (PETI) dilakukan dalam skala kecil, namun massif. Hingga kini, PETI diperkirakan merambah lahan seluas 15 ribu hektar yang berpotensi emas di sungai Batang Tebo. Bukan hanya di Kabupaten Tebo, PETI beroperasi hampir di semua aliran sungai di Provinsi Jambi, termasuk sungai Batang Hari. Menurunnya kualitas air akibat aktivitas ini tidak terhindarkan.

Menurunnya kualitas lingkungan bukan hanya dapat dirasakan melalui bencana alam. Penggalian parit untuk kebun-kebun sawit berdampak pada mengeringnya lahan-lahan pertanian. Duta Besar Singapura HE. Mr Anil Kumar Nayar menjadi salah satu pembicara  dalam Expert Meeting yang diselenggarakan oleh Tim DIPA mengenai dampak kebakaran hutan dari perspektif politik dan hubungan diplomatik Indonesia-Singapura. Lahan-lahan kering tersebut menjadi tidak subur karena asam (naiknya pirit ke permukaan tanah). Pada musim hujan, meskipun air tidak menjadi masalah di sawah-sawah, air di sawah tersebut juga masam karena naiknya air asam. Produksi pertanian menurun secara signifikan. Logging dan pembakaran sporadik meningkat di musim kemarau. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang dipengaruhi El Nino bukan hal baru bagi Indonesia; tahun 1997,2002,2004,2006, 2009 dan yang terbaru tahun 2015, di mana lebih dari 90% asap menyebabkan permasalahan udara regional di wilayah ASEAN.  

DSC01546

Banjir tahunan mengepung rumah warga di wilayah Sungai Lais Kab. Muaro Jambi;

DSC01558

Kegiatan ekonomi tetap berlangsung di antara banjir di wilayah perkebunan sawit di Kab. Muaro Jambi;

DSC01758

Penanaman kembali lahan Tahura di Kecamaran Kumpeh Ilir yang terbakar pada akhir 2015.