Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengukuhkan tiga Profesor Riset baru. Ketiga peneliti yang dikukuhkan tersebut adalah Eko Tri Sumarnadi Agustinus dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Andria Agusta dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, dan Firman Noor (Pusat Penelitian Politik LIPI). Orasi Pengukuhan Profesor Riset disampaikan pada Rabu (12/12) lalu di Jakarta.

Tiga peneliti yang dikukuhkan sebagai professor riset masing-masing adalah berasal dari bidang keilmuan pemrosesan mineral , kimia bahan alam, serta politik dan pemerintahan Indonesia. Secara berurutan ketiganya merupakan Profesor Riset yang ke 125, 126 dan 127 di LIPI, dan berada pada urutan   ke 507, 508 dan 509 Prosefor Riset di seluruh Indonesia.

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko meminta ketiganya secara langsung membimbing, memotivasi dan memberi contoh teladan kepada para peneliti muda di satuan kerja. “Dengan demikian terjadi regenerasi peneliti yang profesional dan berintegritas tinggi secara berkesinambungan,” ujar Handoko. Dirinya berharap dengan bertambahnya Profesor Riset di lingkungan LIPI akan memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kualitas SDM peneliti, dan peningkatan kualitas maupun jumlah hasil penelitian dan kontribusi LIPI untuk masyarakat.

Handoko mengungkapkan, barometer perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, melalui empat alur pemanfaatan iptek. “Science for sciencesscience for better lifesscience for competitivenes, dan science for policy akan terus menjadi acuan bagi LIPI dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga berdampak luas,” ujarnya. Ia mengungkapkan, melalui mekanisme tadi pemerintah maupun masyarakat pada umumnya dapat merasakan pentingnya kehadiran peneliti di tengah-tengah masyarakat, dan terus mendukung dunia penelitian.

Orasi Profesor Riset
Dalam orasinya, Andria Agusta menyatakan pentingnya pengembangan jamur endofit untuk mendukung kemandirian antibiotika di Indonesia. “Dengan kondisi alam yang ideal untuk tempat tumbuh dan berkembangnya mikroba, sampai saat ini belum satupun antibiotika yang secara resmi dihasilkan oleh mikroba yang berasal dari Indonesia. Bahkan sampai saat ini, Indonesia masih dihadapkan ketergantungan yang nyaris secara total terhadap bahan baku obat impor, jelas Andria.

Menurut Andria, peneliti perlu melihat bahwa rakyat Indonesia membutuhkan bahan baku obat yang berasal dari sumber daya hayati Indonesia untuk menciptakan kemandirian. “Pemerintah juga perlu memprioritaskan penelitian-penelitian dan alokasi dana penelitian untuk menemukan obat antiinfeksi. Tidak hanya antiinfeksi oleh bakteri patogen, akan tetapi juga antiinfeksi yang disebabkan oleh organisme lainnya seperti malaria, tuberculosis ataupun infeksi yang disebabkan oleh virus.”

Sedangkan Eko Tri Sumarnadi Agustinus mengungkapkan perlunya rekayasa benefisiasi mineral untuk mineral bukan logam dan batuan marginal. “Rekayasa benefisiasi bermanfaat untuk meningkatkan nilai tambah terutama mineral bukan logam dan batuan marginal, termasuk diantaranya mineral ikutan produk pertambangan, material buangan atau limbah industri yang dipandang sudah tidak ada manfaatnya lagi,” ujar Eko.
 
Eko menjelaskan, rekayasa benefisiasi juga diharapkan dapat menghasilkan produk jadi yang dapat digunakan di berbagai bidang. “Misalnya untuk baju antipeluru, media tanaman, bantalan rel, sampai dinding beton geopolymer untuk partisi,” terang Eko.

Sementara Firman Noor mengungkapkan persoalan partai politik dalam kehidupan demokrasi di era reformasi. “Di awal reformasi harapan dan optimisme untuk mendapatkan kehidupan demokrasi yang lebih baik, dengan partai sebagai pilar utamanya terasa menguat. Namun ternyata peran partai hingga kini belum seutuhnya efektif,” ujar Firman Noor. Dirinya menjelaskan, hal tersebut disebabkan karena persoalan institusional, kultural, legal-formal, hingga struktural.

Firman mengungkapkan perlu serius membangun partai dan melembagakannya dengan sebaik-baiknya. “Pendidikan politik harus menjadi prioritas agar tercipta nilai-nilai budaya politik yang kompatibel dengan demokrasi. Juga penciptaan dan penguatan civil society untuk berperan secara kritis mengawasi eksistensi partai,” jelasnya.

Ia juga menyatakan perlu membangun seperangkat aturan main yang benar-benar dapat mendorong partai untuk memainkan perannya sebagai penyalur aspirasi rakyat dan kontrol terhadap pemerintah. “Dan yang terakhir adalah perbaikan sistem kepartaian yang diharapkan dapat mengarah pada terciptanya partai-partai modern yang siap mendukung penguatan demokrasi di Indonesia,” tutupnya. (fza) 

Sumber : http://lipi.go.id/berita/Profesor-Riset-Diharapkan-Pacu-Regenerasi-Peneliti/21425