Jakarta, Humas LIPI. Pemerintah Indonesia saat ini tengah gencar meningkatkan roda perekonomian nasional. Salah satu langkah penting yang harus dilakukan pemerintah untuk mencapainya adalah menempatkan sumber daya manusia (SDM) serta iptek dan inovasi sebagai pilar penting, khususnya dalam peningkatan daya saing bangsa guna menopang perekonomian Indonesia.
 
Wakil Menteri Keuangan RI, Mardiasmo mengatakan, pemerintah saat ini fokus pada peningkatan kualitas SDM tersebut yang dibarengi dengan iptek dan inovasi. “Tahun 2017, pemerintah mempertahankan alokasi anggaran kesehatan sebanyak 5% dan 20% untuk pendidikan,” ujarnya saat memberikan keynote speech dalam 2nd Thee Kian Wie Lecture Series yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Rabu (26/4).
 
Dengan komitmen mempertahankan anggaran pendidikan, katanya, berarti pemerintah memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan SDM Indonesia. Dengan komitmen pemerintah tersebut diharapkan dapat memacu penguatan kualitas SDM Indonesia yang berujung pada peningkatan daya saing bangsa.
 
Senada, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti menegaskan, SDM bersama dengan iptek dan inovasi merupakan pilar pembentuk daya saing bangsa. Dirinya mendorong agar tantangan yang dihadapi di sektor SDM, perlu segera dipecahkan. “Penting melakukan pembangunan sumber daya manusia secara luas, khususnya dalam kelompok sosial-ekonomi-geografis yang dapat menghambat pencapaian kesempatan yang merata,” sambungnya lagi.
 
Menurutnya, potensi SDM Indonesia yang ada harus dikelola dan dikembangkan agar cita-cita para pendiri bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur akan segera terwujud. “Bahkan Indonesia dapat mengambil peranan yang lebih berarti untuk memajukan kesejahteraan bangsa-bangsa di dunia,” imbuh Nuke.
 
Produktivitas Rendah
 
Sementara itu Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Latif Adam mengungkapkan, pembangunan harus menjadi fondasi dari upaya peningkatan daya saing dan produktivitas tenaga kerja. “Pembangunan SDM di Indonesia bisa dikatakan belum terlalu menggembirakan, produktivitas tenaga kerja Indonesia hanya 18% dari produktivitas tenaga kerja Singapura,” ujarnya. Hal ini disebabkan oleh pola perekonomian yang berkembang, serta kesenjangan kemampuan dalam proses inovasi dan pemanfaatan teknologi, imbuhnya.
 
Sebagai bagaian dari peningkatan kualitas SDM, Latif merekomendasikan agar kurikulum pendidikan tidak hanya padat dengan aspek teoritis, tetapi juga memberikan sisi praktis. Komitmen wajib belajar pun harus ditingkatkan. “Untuk lembaga pelatihan, perlu ada standar lembaga dengan indikator yang jelas, sertifikasi pelatih perlu diperhatikan untuk menjaga kompetensi dan profesionalisme,” ujarnya.
 
Tidak hanya itu, untuk sertifikasi sendiri perlu ada penyederhanaan proses dan mekanisme sertifikasi dengan tahapan yang jelas. “Pengembangan kualitas dan kuantitas lembaga sertifikasi di setiap provinsi harus dilakukan untuk mempermudah proses pelayanan”, pungkas Latif.
 
Sebagai informasi, 2nd Thee Kian Wie Lecture Series digelar untuk mengenang almarhum Thee Kian Wie, peneliti ekonomi LIPI. Walaupun telah tiada, pemikiran dan karyanya dalam bidang ekonomi masih menjadi inspirasi bagi para pengambil kebijakan untuk semakin memperkuat fondasi ekonomi nasional. Turut hadir sebagai pembicara Sri Moertiningsih Adioetomo (Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI), dan Chris Manning (Australia National University). (msa/ed: pwd)

Sumber : Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Tri Nuke Pudjiastuti M.A.